cooliwan

Pengaruh Sanitasi Rumah Terhadap ISPA Pada Balita

Posted on: Maret 22, 2011

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah merupakan salah satu persyaratan bagi kehidupan manusia, karena sebagian besar waktu kehidupan kita dihabiskan di rumah. Sehingga persayaratan rumah sehat sangat penting karena selain memberikan rasa nyaman terhadap penghuninya juga dapat mencegah dari gangguan kesehatan.

Rumah berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim atau perubahan cuaca  dan makhluk  hidup lainnya serta tempat pengembangan kehidupan keluarga yang merupakan hal yang sangat mendasar. Oleh karena itu keberadaan rumah yang sehat,  aman,  serasi, dan teratur sangat di perlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik bagi penghuninya.

Menurut The American Public Health Association (dalam Gunawan, 2009), rumah sehat adalah tempat kediaman/tempat tinggal dalam suatu keluarga yang dapat menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik jasmani, rohani maupun sosial.

Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2009, diperoleh informasi bahwa banyak rumah dengan luas yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sehingga pada rumah yang terlalu sempit sangat memungkinkan terjadinya penularan penyakit ISPA sangat cepat serta banyaknya polusi udara yang terjadi di wilayah tersebut.

Dalam laporan Subdin P2 & PL Dinkes provinsi Sul-Sel tahun 2003 diperoleh data persentasi rumah sehat sebesar 57,03% sedangkan  untuk tahun 2004 persentasi untuk rumah sehat meningkat menjadi 63,34%, pada tahun 2005 meningkat lagi menjadi 64,29%, tahun 2006 mencapai 64,69% , namun pada tahun 2007 persentasi untuk rumah sehat menurun menjadi 55,49%, tahun 2008 menurun lagi 55,45% hingga  tahun 2009 menurun sampai 55,30%. Bila dibandingkan dengan target pencapaian Indonesia sehat 2010 (80%) maka hal ini berarti masih jauh dari target (Depkes Propinsi Sulawesi Selatan, 2009).

Kesehatan perumahan dan lingkungan merupakan salah satu kegiatan pokok dalam program penyehatan lingkungan pemukiman. Penyehatan perumahan dan lingkungan itu sendiri  di utamakan pada daerah yang mempunyai resiko tinggi terhadap kemungkinan penularan penyakit infeksi seperti Diare, TB paru, Cacingan, DBD dan ISPA serta dengan mencegah adanya rumah-rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan istilah yang diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan  proses infeksi akut berlangsung selama ±14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Depkes RI, 2009).

Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang di sebabkan oleh kondisi rumah yang jelek/buruk. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA serta hubungannya dengan kondisi perumahan adalah faktor lingkungan seperti keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan berupa kepadatan penghuni,  kelembaban, ventilasi kurang, kebisingan, pencahayaan yang tidak optimal, tidak ada pembagian kamarisasi, faktor prilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah, faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi, ASI Ekslusif dan BBLR serta faktor keturunan.

World Health Organitation (WHO), memperkirakan di Negara berkembang berkisar 30 – 70 kali lebih tinggi dari Negara maju dan diduga 20% dari bayi yang lahir di Negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 25 – 30% dari kematian anak disebabkan oleh ISPA (Depkes RI Direktorat Jenderal PPM & PLP, 2002).

Di Indonesia kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab 36,4% kematian bayi tahun 2003  dan 32,1% kematian bayi pada tahun 2005, serta penyebab 18,2% kematian pada balita pada tahun 2003 dan 38,8% tahun 2005. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Berdasarkan data dari P2 program ISPA tahun 2005 cakupan penderita ISPA melampaui target 13,4%, hasil yang di peroleh 18.749 kasus sementara target yang ditetapkan hanya 16.534 kasus. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2009 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sul-Sel penemuan penderita ISPA pada balita sejak tahun 2007 hingga 2009, berturut–turut adalah 62.126  kasus (31,45%), 72.537 kasus (35,94%) dan 74.278 kasus (36,26 %). Hal ini menunjukkan bahwa angka kejadian ISPA di propinsi Sul-Sel semakin bertambah.

Puskesmas merupakan salah satu dari pusat pemberian pelayanan kesehatan. Puskesmas Cendrawasih adalah salah satu puskesmas di wilayah kota Makassar yang memiliki angka penemuan ISPA yang cukup tinggi. Total penemuan penderita ISPA di Puskesmas Cendrawasih pada tahun 2007 adalah 11.277 kasus dari 29.370 kunjungan dan didapatkan penderita ISPA pada balita adalah 5.930 kasus, pada tahun 2008 total penderita ISPA adalah 12.094 kasus dari 30.659 kunjungan dan didapatkan penderita ISPA pada balita adalah 6.346  kasus, dan pada tahun 2009 total penderita ISPA 12.626 dari 32.375 kunjungan dan terdapat 6.578 kasus. Dengan data tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian ISPA di wilayah Puskesmas Cendrawasih sangat tinggi terutama pada balita.

Berdasar data dari bagian KIA puskesmas cendrawasih bulan januari 2011, jumlah balita yang ada di kelurahan Baji Mappakasunggu kecamatan mamajang sebnyak 222 balita, dimana RW 01 sebanyak 90 balita, RW 02 sebanyak 40 balita, RW 03 sebanyak 50 balita, dan RW 04 sebanyak 42 balita.

Berdasarkan hasil observasi rumah dilihat dari keadaan kepadatan hunian, ventilasi, kamarisasi dan pencahayaan yang dilakukan oleh penulis di  kelurahan Baji Mappakasunggu wilayah kerja Puskesmas Cendrawasih, pada umumnya tidak memenuhi syarat, maka penulis mengambil kesimpulan sementara, bahwa sanitasi rumah berpengaruh dengan angka kejadian ISPA di Kecamatan Mamajang. Hal inilah yang mendasari  penulis untuk meneliti  tentang  “Pengaruh Faktor Sanitasi Rumah Terhadap Kejadian ISPA Pada Balita di Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar Tahun 2011”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Apakah ada pengaruh sanitasi rumah terhadap kejadian kejadian ISPA pada balita dikelurahan Baji mappakasungguh Kecamatan Mamajang Kota Makassar.

C. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan umum:

Untuk mengetahui pengaruh sanitasi rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar Tahun 2011.

2. Tujuan khusus:

    1. Untuk mengetahui pengaruh kepadatan hunian dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar
    2. Untuk mengetahui pengaruh keadaan ventilasi dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar
    3. Untuk mengetahui pengaruh keadaan kamarisasi  dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar
    4. Untuk mengetahui pengaruh keadaan suhu rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar.
  1. D. Manfaat Penelitian
    1. Instansi Kesehatan

Sebagai bahan masukan bagi instansi kesehatan khususnya bagi pengelola Puskesmas Cendrawasih dalam penentuan arah kebijakan program penanggulangan penyakit menular khususnya ISPA.

  1. Institusi

Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya di institusi Universitas Pancasakti Makassar, disamping itu hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

  1. Masyarakat

Sebagai informasi tambahan, khususnya orang tua yang memiliki Balita agar memperhatikan faktor resiko yang dapat meningkatkan angka kesakitan ISPA bahkan kematian pada si buah hati.

  1. Penulis

Bagi penulis merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di bangku perkuliahan dan menambah wawasan pengetahuan.

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Pola Pikir Variabel Yang Diteliti

Faktor Lingkungan/Kondisi Rumah

  1. Kepadatan penghuni
  2. Ventilasi
  3. Kamarisasi
  4. suhu

Kejadian ISPA pada Balita

An

Factor individu (anak)

Factor perilaku

Keterangan :

Variabel yang diteliti                           :

Variabel yang tidak diteliti                 :

Variabel dependen                              :   Kejadian  ISPA pada Balita

Variabel independen:

  1. Kepadatan penghuni
  2. Ventilasi
  3. Kamarisasi
  4. Suhu

B. Defenisi operasional dan kriteria objektif

  1. 1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

Yang dimaksud dengan ISPA pada penelitian ini adalah apabila pada waktu wawancara dengan responden diperoleh adanya informasi salah satu atau lebih anggota keluarga yang mengalami penyakit yang menyerang organ pernafasan anak secara tiba-tiba baik organ pernafasan bagian atas maupun bawah.

Kriteria objektif:

  1. Pernah menderita: jika anak pernah mengalami infeksi pada organ pernafasannya berdasarkan diagnosa dokter (dalam 3 bulan terakhir)
  2. Tidak menderita: jika anak tidak mengalami infeksi pada organ pernafasannya berdasarkan diagnosa dokter
  3. 2. Kepadatan penghuni

Kepadatan penghuni pada penelitian ini adalah banyaknya jumlah orang yang menghuni rumah berdasarkan luas rumah.

Kriteria obyektif:

  1. Memenuhi syarat: dapat menyediakan 2,5–3 m2 untuk tiap orang/luas rumah (Permenkes, 829/MENKES/SK/VII/2004)
    1. Tidak memenuhi syarat: jika tidak sesuai dengan kriteria di atas
    2. 3. Ventilasi

Ventilasi adalah sarana yang digunakan untuk mengatur sirkulasi (pertukaran udara) dalam ruangan rumah dengan udara luar

Kriteria objektif:

  1. Memenuhi syarat: jika rumah memiliki ventilasi atau jendela termasuk setiap ruang yang ada dalam rumah dengan ukuran luas ventilasi/jendela minimal 10% dari luas lantai (Peraturan Bangunan Nasional, 2009)
    1. Tidak memenuhi syarat: jika tidak sesuai dengan kriteria di atas
    2. 4. Kamarisasi

Yang dimaksud dengan kamarisasi  pada penelitian ini adalah adanya pembagian kamar/ruangan  dalam rumah.

Kriteria objektif:

  1. Memenuhi syarat: jika dalam suatu rumah terdapat pembagian kamar yang sesuai (Natoatmodjo, 2007)
  2. Tidak memenuhi syarat: jika tidak sesuai dengan criteria di atas.
  3. 5. Suhu

Yang dimaksud dengan suhu pada penelitian ini adalah berapa derajad uadara dalam rumah.

Kriteria objektif:

  1. Memenuhi syarat: Jika suhu udara dalam ruangan 18-30oC (Permenkes, 829/MENKES/SK/VII/2004)
  2. Tidak memenuhi syarat: jika tidak sesuai dengan kriteria di atas.

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

  1. Ada pengaruh antara kepadatan penghuni terhadap kejadian ISPA pada Balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Tahun 2011.
  2. Ada pengaruh antara keadaan ventilasi terhadap kejadian ISPA pada Balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Tahun 2011.
  3. Ada pengaruh antara keadaan kamarisasi terhadap kejadian ISPA pada Balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Tahun 2011.
  4. Ada pengaruh antara suhu terhadap kejadian ISPA pada Balita di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Tahun 2011.

BAB IV

METODE PENELITIAN

  1. A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey analitik dengan rancangan Cross Sectional Study yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor resiko dengan faktor efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada waktu yang bersamaan yaitu kejadian ISPA sebagai factor efek (dependen) dan kondisi rumah sebagai factor resiko (variabel independen).

  1. B. Lokasi dan Waktu Penelitian
    1. 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar.

  1. 2. Waktu Penelitian

Penelitian direncanakan pada bulan April s/d Juni 2011.

  1. C. Populasi Dan Sampel
    1. 1. Populasi

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua Balita yang tinggal di  Kelurahan Baji Mappakasunggu Kecamatan Mamajang Kota Makassar Tahun 2011, sebanyak 222 balita.

  1. 2. Sampel

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Simple Random Sampling yaitu bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel.

n   =         N

1 + N (d2)

Keterangan:

N: besar populasi

n: besar sampel

d2: kesalahan (absolut) yang dapat ditoleransi (0,05)

n =       222

1 + 222 (0,052)

=         222

1 + 222 . 0,0025

=   222

1 + 0,555

= 142

  1. D. Teknik Pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan :

  1. Data primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti melalui lembar observasi dan kuesioner yang mencakup hasil wawancara dengan pihak keluarga dalam hal ini orang tua bayi sebagai kepala keluarga.

  1. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti yang bersumber dari Dinas Kesehatan Propinsi Sul-Sel, Puskesmas Cendrawasih, kantor kelurahan Baji Mappakasunggu, dan kepala  Baji Mappakasunggu.

  1. E. Teknik Pengolahan dan Penyajian Data

Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan computer  kemudian dianalisis dengan menggunakan program SPSS dengan rumus uji chi kuadrat (X2) dan disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan penjelasan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: