cooliwan

Konsep PBL FKM UNPACTI MAKASSAR

Posted on: Maret 12, 2011

PROPOSAL
RANCANGAN KEGIATAN
PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN (PBL)

26 Juli – 9 Agustus 2010

KECAMATAN TOMPOBULU
KABUPATEN BANTAENG

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS PANCASAKTI MAKASSAR
2010

PENGELOLA LABORATORIUM LAPANGAN
FKM UNPACTI MAKASSAR

Pelindung/Penasehat : Dekan FKM UNPACTI Makassar
Penanggung jawab : Pembantu Dekan IV FKM UNPACTI Kepala/Koordinator : Andi Asri, S. KM, M. Kes
Sekretaris : Ivan Wijaya, S. KM, M. Kes
Bendahara : Umar Dg. Palalo, S. KM, M. Kes
Anggota : Muriani, S. KM
Irmawati, S. S. KM
Rama Nur Kurniawan, S. KM
Hardiyanto, S. KM

KONSEP PROSES
PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN (PBL)
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS PANCASAKTI MAKASSAR

A. Pendahuluan

Pengalaman belajar lapangan (PBL) I memiliki substansi dalam pembelajaran berkelanjutan yang berorientasi pada kemampuan mahasiswa dalam mempersiapkan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Olehnya itu masalah pengelolaan program PBL mengacu pada pelibatan masyarakat pada setiap item kegiatan, mulai dari identifikasi dan analisis masalah, penentuan prioritas masalah, intervensi, dan evaluasi.
Nilai dasar pembelajaran PBL II menempatkan mahasiswa sebagai agen pembaharu kehidupan masyarakat dalam rangka pembangunan yang berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas, merata dan terjangkau dalam bidang preventif dan promotif serta meningkatkan derajat kesehatan individu, kelompok/keluarga dan masyarakat.
Sebagai agen pembaharu, mahasiswa bukan sebagai pekerja purna waktu untuk masyarakat. Perannya hanya bersifat fasilitatory untuk selanjutnya memberikan peran kemandirian pada masyarakat. Sehingga basis kerja program harus bersifat partisipatif, bukan mengambil peran masyarakat. Penekanan penting dalam pelaksanaan PBL ini adalah munculnya pengalaman mahasiswa dalam bersikap responsif dengan masalah-masalah aktual dalam lingkungan masyarakat sasaran.
Secara ideal, tentunya tidaklah rasional bila proses pembaharuan dalam masyarakat dapat mencapai hasil optimal hanya dalam jangka waktu 14 hari (dua minggu). Namun yang ingin dicapai adalah muatan atau nilai pembelajaran yang relevan dengan administrasi pengelolaan upaya kesehatan masyarakat yang dimulai dari Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuiting (pelaksanaan), hingga pada controlling (pengawasan), dan evaluating (penilaian).
Dalam rangka mengantisipasi kelemahan tersebut, maka strategi yang perlu dijalankan meliputi sebagai berikut:
1. Penggalian data dan informasi kesehatan pada institusi pelayanan kesehatan dan masyarakat, melalui analisis data sekunder dan need assesment masalah kesehatan masyarakat
2. Identifikasi dan analisis masalah kesehatan yang melibatkan masyarakat, melalui brainstorming.
3. Penentuan prioritas masalah kesehatan berdasarkan hasil brainstorming bersama masyarakat.
4. Intervensi masalah kesehatan dilakukan berdasarkan asumsi prioritas masalah kesehatan.
5. Evaluasi program dilakukan dalam rangka menelaah dan mengukur penerapan strategi dan keberhasilan pengelolaan program.
Sebagai metode pengajaran PBL I memiliki tatanan pembelajaran yang memprioritaskan pada kemampuan profesional di bidang kesehatan masyarakat, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menerapkan diagnosis kebutuhan kesehatan komunitas, dengan need assesment program intervensi kesehatan
2. Menyusun RTL (Rencana Tindak Lanjut) atau POA (plan of action) yang dilakukan bersama dengan masyarakat
3. Mengembangkan program penanganan masalah kesehatan masyarakat yang berorientasi pada public health service (preventif dan promotif) yang dilakukan bersama dengan masyarakat
4. Bertindak sebagai manajer madya yang memiliki fungsi sebagai pengelola upaya kesehatan masyarakat
5. Melakukan pendekatan masyarakat melalui metode learning by doing (belajar sambil bekerja) yang bersifat motivator dan partisipatory
6. Bekerja dalam tim multidisipliner untuk tujuan kolektif.
Kemampuan dasar yang dimiliki mahasiswa dalam PBL sebagai berikut:
 Mahasiswa mampu menetapkan diagnosis kesehatan komunitas
 Mahasiswa mampu mengembangkan program intervensi kesehatan masyarakat
 Mahasiswa mampu melakukan pendekatan komunitas
 Mahasiswa mampu bekerja dalam tim multidisipliner.
Untuk mendukung peranan itu diperlukan pengetahuan mendalam tentang komunitas (masyarakat). Pengetahuan ini berorientasi pada hubungan antar manusia dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Selain itu, juga dibutuhkan data dan informasi tentang komunitas sebagai dasar diagnosis, berupa data dan informasi sebagai berikut:
 Profil desa/kelurahan, yang berisikan tentang data administratif, geografis, demografis, sosial, ekonomi dan kebudayaan
 Profil kesehatan desa/kelurahan, yang berisikan tentang angka kejadian penyakit, angka kematian ibu dan balita, cakupan pelayanan persalinan, cakupan imunisasi bayi dan balita, cakupan kunjungan posyandu
 Informasi pendukung, yang meliputi angka kelahiran, sarana pelayanan kesehatan, jumlah orang miskin yang memperoleh askeskin, jarak rata-rata rumah tangga ke sarana pelayanan puskesmas dan rumah sakit, jumlah wanita usia subur dan pasangan usia subur, jumlah akseptor KB.
Data dan informasi merupakan bahan yang digunakan dalam melakukan diagnosis kesehatan komunitas sebagai pembanding dari pengamatan langsung yang dilakukan mahasiswa.
Adapun substansi dari PBL I sebagai berikut:
1. Menumbuh-kembangkan kemampuan pendekatan kesehatan secara holistik dan komprehensif
2. Menumbuh-kembangkan kemampuan profesional dalam public health service.
3. Menumbuh-kembangkan kemampuan dalam pendekatan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
B. Tema Kegiatan PBL I

Tema kegiatan PBL I tahun ajaran 2010/2011 adalah “MEWUJUDKAN DESA/KELURAHAN SIAGA DAN SEHAT”:
C. Tujuan PBL I
Umum
Mewujudkan desa/kelurahan Siaga dan Sehat berbasis masyarakat
Khusus
1. Identifikasi masalah kesehatan masyarakat, serta analisis ketersediaan perangkat desa/kelurahan siaga pada tingkat desa/kelurahan, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
2. Penentuan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan perangkat prioritas yang perlu disiapkan untuk menuju desa/kelurahan siaga, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
3. Merumuskan rencana intervensi masalah kesehatan masyarakat dan sosialisasi ketersediaan perangkat desa/kelurahan siaga, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
4. Intervensi masalah kesehatan masyarakat yang menjadi prioritas dan sosialisasi ketersediaan perangkat desa/kelurahan siaga, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
5. Evaluasi kinerja program yang telah dilaksanakan, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
6. Alternatif perbaikan program dalam rangka pengembangan kedepan, dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat.
D. Strategi Proses Pembelajaran
1. Kegiatan Perkuliahan yang dilaksanakan sebanyak 14 SAP (Satuan Acara Perkuliahan) dengan durasi 14 x 90 menit (total 21 jam)
2. Kegiatan Pembekalan yang dilaksanakan sebanyak 2 materi dengan durasi per materi 90 menit (total 3 jam)
3. Kegiatan pembimbingan lapangan yang dilaksanakan secara intensif sebanyak 14 hari x 90 menit (atau durasi minimal 21 jam).
4. Kegiatan supervisi lapangan yang dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan durasi 3 x 90 menit (atau durasi minimal 4,5 jam).
5. Kegiatan belajar mandiri mahasiswa sebanyak 14 hari full time di lapangan (masyarakat).
E. Implementasi Proses Pembelajaran
Implementasi proses pembelajaran PBL I meliputi sebagai berikut:
1. Kegiatan Perkuliahan
Kegiatan perkuliahan dilaksanakan secara indoor yang dilaksanakan sebanyak 14 kali pertemuan dengan Satuan Acara Pengajaran (SAP) sebagai berikut:
1.1 Filosophi PBL I
1.2 Tujuan dan Manfaat PBL I
1.3 Patologi Komunitas
1.4 Penerapan Ilmu Kesehatan Masyarakat
1.5 Identifikasi Masalah Kesehatan Masyarakat
1.6 Rapid Assesment
1.7 Pengolahan Data Hasil Assesment
1.8 Penilaian Status Kesehatan Masyarakat
1.9 Penentuan Prioritas Masalah
1.10 Strategi dan Teknik Penggerakan Masyarakat
1.11 Strategi dan Teknik Perubahan Masyarakat
1.12 Strategi dan Teknik Peningkatan Kualitas Lingkungan
1.13 Strategi dan Teknik Presentase
1.14 Strategi dan Teknik Monitoring dan Evaluasi Program
2. Kegiatan Pembekalan
Kegiatan pembekalan dilaksanakan menjelang turun ke lapangan (minus tiga hari) oleh narasumber yang memiliki keahlian dalam aspek sebagai berikut:
2.1 Patologi Komunitas dan Perubahan Masyarakat
2.2 Pemberdayaan Masyarakat dan Pendekatan Lintas Sektoral
2.3 Pembekalan Teknis dan Penetapan koordinator tim (Korkab, Korcam dan Kordes).
3. Kegiatan pembimbingan lapangan
Kegiatan pembimbingan lapangan dilakukan oleh pembimbing lapangan dan pembimbing institusi yang berasal dari dosen tetap FKM UNPACTI dengan aspek pembimbingan sebagai berikut:
3.1 Bertanggung jawab pada tim pengelola terhadap pelaksanaan kegiatan PBL oleh mahasiswa
3.2 Melaksanakan kegiatan kerja PBL yang telah ditetapkan
3.3 Bertanggung jawab terhadap semua aktifitas mahasiswa PBL selama di lapangan
3.4 Membimbing/mengarahkan mahasiswa PBL dalam pelaksanaan kegiatan kerja PBL yang telah ditetapkan
3.5 Mengintegrasikan kegiatan PBL di lapangan dengan kegiatan pemerintah
3.6 Memantau semua kegiatan pelaksana PBL oleh mahasiswa di lapangan
3.7 Memberi catatan khusus terhadap mahasiswa yang tidak mentaati kegiatan PBL di lapangan
3.8 Mengambil keputusan bila terjadi hal-hal yang diinginkan selama di lapangan setelah dimusyawarahkan antara di antara pembimbing lapangan yang diketahui oleh supervisi
3.9 Memberi petunjuk tentang pelaksanaan kegaiatan PBL di lapangan
4. Kegiatan supervisi lapangan
Kegiatan supervisi dilakukan oleh Unsur pimpinan fakultas (Dekan, PD I, PD II, PD III, dan PD IV) serta Kepala/Koordinator Laboratorium Lapangan.
Adapun aspek supervisi sebagai berikut:
4.1 Memantau kegiatan pembimbing lapangan terhadap pelaksanaan PBL oleh mahasiswa
4.2 Memantau pelaksanaan kegiatan PBL oleh mahasiswa di lapangan
4.3 Memberi petunjuk/pengarahan tentang kegiatan PBL apabila diperlukan
4.4 Membuat laporan supervisi
5. Kegiatan belajar Mandiri Mahasiswa
Adapun kegiatan belajar mandiri mahasiswa meliputi sebagai berikut:
5.1 Mampu berdisiplin dalam orientasi dan kegiatan lapangan
5.2 Mampu bertanggung jawab dalam pelaksanaan program
5.3 Mampu bekerjasama dalam tim lapangan
5.4 Mampu berinisiatif dan dapat memberikan ide atau cara yang terbaik dalam melaksanakan suatu kegiatan
5.5 Mampu menjaga Kondite atau aturan tata tertib UNPACTI dan etika yang berlaku di masyarakat
5.6 Memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang baik dalam pengeorganisasian masyarakat
5.7 Memiliki kebiasaan mengelola kegiatan harian secara terencana dan terukur
5.8 Memilki kemampuan dalam mempresentasekan program yang telah dilaksanakan kepada masyarakat
5.9 Memiliki kemampuan dalam merumuskan laporan kegiatan berdasarkan sistematika yang baku.

F. Alur Kegiatan Lapangan
1. Pemberangkatan dan Penerimaan
1.1 Pemberangkatan mahasiswa PBL dikoordinir oleh Korkab, Korcam dan Kordes (Sesuai otoritas masing-masing)
1.2 Pembimbing institusi/lapangan bertugas mendampingi mahasiswa hingga ke lokasi dan diterima oleh pemerintah setempat
2. Penyusunan POA (Plan of Action), Time Schedule, dan RAB (Rincian Alokasi Biaya) program
2.1 Penyusunan POA meliputi jenis kegiatan, tujuan kegiatan, sasaran kegiatan, metode kegiatan, waktu kegiatan, estimasi biaya, indikator keberhasilan, output kegiatan, penanggung jawab kegiatan
2.2 Penyusunan time schedule meliputi rincian alokasi waktu kegiatan selama 14 hari di lapangan (masyarakat)
2.3 Penyusunan RAB merupakan estimasi besaran biaya kegiatan yang dapat disediakan oleh tim selama di lapangan (masyarakat).
3. Rapid Assesment
3.1 Rapid assesment dilakukan dalam rangka mengumpulkan data dan informasi tentang masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi masyarakat desa/kelurahan.
3.2 Metode assesment dilakukan dengan dua cara, yaitu indepth interview dan diskusi kelompok terfokus.
3.3 Indepth interview dilakukan dengan teknik sebagai berikut:
3.3.1 Pengambilan sample dilakukan secara berkelompok (cluster sampling).
3.3.2 Yang dimaksud dengan cluster adalah struktur administrasi pemerintahan di bawah struktur desa, yaitu dusun/lingkungan/RW.
3.3.3 Setiap cluster dipilih sebesar 15 KK (Kepala Keluarga) secara purvosif (atau dengan menggunakan kriteria tertentu).
3.3.4 Penentuan kriteria dilakukan berdasarkan pertimbangan terdekat dari sarana pelayanan kesehatan (kurang dari 1 kilometer), jauh dari pelayanan kesehatan (di atas 1 kilometer dan kurang dari 5 kilometer) dan sangat jauh dari sarana pelayanan kesehatan (di atas 5 kilometer).
3.3.5 Jumlah sample yang dipilih setiap kriteria adalah 5 kepala keluarga.
3.3.6 Total sample adalah hasil perkalian dari jumlah cluster x 15 kk.
3.3.7 Setelah sample assesment telah ditetapkan, maka selanjutnya dilakukan investigasi dengan menggunakan instrumen indepth interview (Quesioner).
3.3.8 Adapun pokok-pokok isi quesioner meliputi identitas responden, data keluarga (minimal meliputi tingkat pendidikan dan pendapatan), data sarana air minum dan sanitasi, data status kesehatan).
3.3.9 Dalam pelaksanaan interview tetap mengacu pada etika yang berlaku pada masyarakat, berpakaian sopan, tidak menyinggung perasaan, dan menjalin hubungan emosional yang baik.
3.4 Diskusi kelompok terfokus dilakukan dengan teknik sebagai berikut:
3.4.1 Diskusi kelompok terfokus dilakukan dengan cara mengundang tokoh-tokoh masyarakat lokal secara informal untuk memberikan informasi serta pandangannya terhadap masalah kesehatan masyarakat.
3.4.2 Pelaksanaan diskusi terfokus sebaiknya dilakukan pada setiap dusun/lingkungan/RW dengan jumlah maksimal peserta 10 – 15 orang yang mewakili tokoh agama, tokoh adat, tokoh informal, tokoh perempuan, tokoh pemuda, guru/pendidik, petugas kesehatan, dan aparat pemerintah lokal, serta wakil organisasi setempat.
3.4.3 Dalam pelaksanaan diskusi kelompok terfokus dipandu oleh fasilitator dari mahasiswa yang bertugas mengarahkan jalannya diskusi dengan tema “ MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT YANG DIHADAPI MASYARAKAT”.
3.4.4 Selama proses diskusi kelompok terfokus seorang mahasiswa harus bertugas sebagai notulen yang bertugas mencatat seluruh tanggapan masyarakat.
3.4.5 Selain itu, proses diskusi kelompok terfokus harus diabadikan melalui kamera sebagai bahan dokumen laporan.
3.4.6 Durasi diskusi kelompok terfokus maksimal 90 menit.
4. Pengolahan dan Analisis Hasil Assesment
4.1 Sebelum melakukan pengolahan data dan informasi perlu dilakukan pengkodingan atau penertiban data dan informasi.
4.2 Seluruh quesioner yang diperoleh dari indepth interview harus direcek kebenarannya dari pengumpul data sebelum diinput, begitu pula dengan hasil notulen harus recek dari mahasiswa pencatat sebelum dianalisis.
4.3 Data yang diperoleh melalui indepth interview harus ditabulasi melalui distribusi frekwensi (disajikan dalam bentuk tabel).
4.4 Informasi yang diperoleh melalui diskusi kelompok terfokus ditampilkan secara deskriptif
4.5 Analisis hasil assesment adalah mengacu pada konsep idealiastis dan kemudian dikonfrontir dengan fakta yang diperoleh dalam bentuk data dan informasi.
4.6 Selanjutnya dirumuskanlah inventarisir masalah berdasarkan hasil assesment.
5. Penentuan Prioritas Masalah
5.1 Penentuan prioritas masalah dilakukan dalam rangka memilih item masalah pada hasil inventarisir masalah untuk diintervensi dalam waktu 14 hari selama di lokasi (masyarakat).
5.2 Langkag-langkah yang perlu dilakukan dalam merumuskan prioritas masalah adalah dengan membuat matriks prioritas masalah yang meliputi komponen sebagai berikut: berat dan ringannya masalah; luasnya masalah; pertimbangan politik; persepsi masyarakat; serta bisa tidaknya dilakukan selama di lokasi.
5.3 Kesemua komponen tersebut harus diberikan scoring yang mengacu pada hasil assesment dengan nilai scoring adalah mulai dari 1, 2, 3, 4, dan 5.
5.4 Penentuan scoring terendah dan tertinggi berdasarkan kesimpulan tim.
5.5 Selanjutnya buatlah rencana intervensi berdasarkan urutan prioritas tertinggi kemudian pada urutan di bawahnya, dan sesuaikan dengan waktu yang tersedia dalam menyelesaikan program intervensi.

6. Seminar Awal
6.1 Seminar awal dilakukan setelah dilakukan identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, dan rencana intervensi.
6.2 Seminar menghadirkan seluruh komponen masyarakat seperti pemerintah lokal, tokoh masyarakat dan pemilik kepentingan lainnnya.
6.3 Kegiatan seminar dilkaukan untuk memperoleh respon yang terkait dengan hasil identikasi masalah, penentuan prioritas masalah, dan rencana intervensi.
6.4 Respon yang diterima dalam kegiatan seminar diharapkan dapat memperkuat, melengkapi, serta mendukung program intervensi yang akan dilakukan.
7. Intervensi Program
7.1 Program intervensi dilaksanakan mengacu pada rencana intervensi yang telah disusun sebelumnya, serta mempertimbangka pada masukan-masukan pada pelaksanaan seminar awal
7.2 Secara garis besar program intervensi meliputi dua hal sebagai berikut: program fisik dan non fisik.
7.3 Program non fisik adalah suatu program yang bertujuan untuk memberikan atau merubah tatanan pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku masyarakat.
7.4 Model program biasanya dilakukan dalam bentuk penyuluhan masyarakat, konseling keluarga, diskusi komunitas, advokasi dan sebagainya.
7.5 Model program fisik biasanya dilakukan dalam bentuk perbaikan lingkungan dengan pengadaan sarana sanitasi, pemeriksaan bakteriologis sumber air minum, pemberian makanan tambahan, pemyediaan base-line data kesehatan desa/kelurahan, perumusan sistem kesehatan desa/kelurahan dan sebagainya.

8. Monitoring dan Evaluasi Program
8.1 Monitoring dilakukan sejak mahasiswa berada di lokasi hingga penarikan.
8.2 Monitoring dilakukan untuk memantau kesesuaian rencana aksi dengan kenyataan sesungguhnya, sehingga masalah dapat dikendalikan secara cepat.
8.3 Evaluasi dilakukan setelah program intervensi dilakukan, atau dilakukan sebelum pelaksanaan seminar akhir (hasil program).
8.4 Evaluasi bertujuan untuk memantau kinerja program berdasarkan input, proses dan output.
8.5 Hasil evaluasi dapat dijadikan pedoman pengembangan program pada PBL selanjutnya.
9. Seminar Hasil
9.1 Seminar hasil dilakukan setelah dilakukan intervensi program dan evaluasi program.
9.2 Seminar menghadirkan seluruh komponen masyarakat seperti pemerintah lokal, tokoh masyarakat dan pemilik kepentingan lainnnya.
9.3 Kegiatan seminar dilkaukan untuk memperoleh respon yang terkait dengan . intervensi program dan evaluasi program.
9.4 Respon yang diterima dalam kegiatan seminar diharapkan dapat memperkuat, melengkapi, serta mendukung hasil program intervensi, dan sekaligus masukan untuk pengembangan program PBL selanjutnya.
10. Penyusunan Laporan Kegiatan
10.1 Penyusunan laporan kegiatan dipersiapkan sejak mahasiswa berada di lokasi, sehingga nantinya tidak kesulitan memperoleh bahan-bahan setelah penarikan.
10.2 Laporan dibuat sebanyak 5 rangkap untuk kepentingan sebagai berikut: Kantor Kesatuan Bangsa Kab/Kota; Dinas Kesehatan Kab/Kota; Desa/Kelurahan; Laboratorium Komunitas; dan perpustakaan FKM UNPACTI.
11. Penarikan
11.1 Penarikan dilakukan setelah dilaksana seminar hasil program
11.2 Kegiatan penarikan akan dihadiri oleh unsur pimpinan FKM UNPACTI Makassar dan pembimbing lapangan.
G. Acuan Program PBL I
Acuan program intervensi PBL III merupakan pengayaan kapasitas mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan lapangan. Adapun model-model program intervensi PBL III sebagai berikut:
1. Teknik Assesment Masalah Kesehatan Masyarakat (lihat modul)
2. Penyuluhan Gizi Masyarakat (lihat modul)
3. Penyuluhan Kesehatan Lingkungan (lihat modul)
4. Analisa Potensi Desa/Keluarahan Siaga dan Sehat (lihat modul)

Lampiran-Lampiran

DATA PESERTA PBL FKM UNPACTI MAKASSAR

Nama : Heryawan

Stambuk : 507 05 121

Alamat : Jl. Baji Ateka

Tempat/Tgl. Lahir : Ladongi, 1 juli 1989

Jenis Kelamin : Urane

Status : Reguler

Agama : Selleng

Lokasi (desa/kec.) : Banyorang

Kelompok : II (dua)

Biodata ini telah diisi dengan sebenar-benarnya.

Mahasiswa yang Bersangkutan

(…………………………)

TEKNIK MEMBANGUN TIM

Dalam rangka meregulasi program kesehatan masyarakat, tentunya dibutuhkan tim yang akan melakukan aktifitas pengorganisasian dan implementasi. Kegagalan program bukan satu-satunya disebabkan oleh faktor teknis program, melainkan juga disebabkan oleh faktor non teknis terutama tidak solidnya tim.
Faktor utama yang mempengaruhi tidak solidnya tim karena hambatan atau gangguan komunikasi. Rendahnya motivasi, inisiatif dan kreatifitas anggota tim banyak dipengaruhi oleh tidak terbangunnya komunikasi sejak awal. Interaksi terbangun karena memang sudah ada kedekatan sebelumnya, anggota tim yang lain yang sebelumnya tidak memiliki hubungan emosional akan termarginalkan dari anggota kelompok lainnya.
Untuk membangun soliditas tim, maka langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut:
Pertama, sejak terbentuknya tim, maka mulailah dengan mengambil posisi duduk melingkar hingga bisa saling menatap satu sama lain secara keseluruhan.
Kedua, dimulai dari anggota tim A hingga Z (misalnya) menyebutkan “Nama lengkap saya Abdillah Hanif biasa dipanggil Abil (misalnya), dan seterusnya hingga seluruh anggota tim mendapat kesempatan yang sama.
Ketiga, setelah memperkenalkan nama masing-masing, setiap anggota tim menuliskan nama panggilannya pada secarik kertas kemudian dipertukarkan kepada anggota tim lainnya pada sebelah kiri atau kanan. Tetapi bila jumlah anggota tim ganjil maka tambahkan siapapun yang ada di area terdekat untuk bergabung sementara dalam tim. Kemudian masing-masing anggota tim menyebutkan “Nama saya…..(sebut nama yang tertulis pada kertas yang telah dipertukarkan) secara bergantian hingga seluruh anggota tim mendapat kesempatan yang sama.
Keempat, lanjutkan dengan interaksi bebas satu sama lain dengan anggota tim dengan saling mengenal lebih dekat tentang yang terkait makanan pavorit, dan seterusnya.
Pedoman praktis membangun soliditas tim sebagai berikut:
a. Hubungan antara antara sesama anggota harus bersifat cair atau tidak kaku
b. Bangunlah peran setiap anggota tim sesuai tujuan yang ingin dicapai melalui kemampuan masing-masing
c. Peran yang tidak optimal harus ditutupi oleh anggota tim lainnya tanpa harus saling menyalahkan
d. Setiap saat anggota tim melakukan diskusi tentang kemajuan dari perannya
e. Tim tidak terjebak dalam pendekatan struktural atau job yang sudah ditetapkan
f. Semua anggota tim saling menjaga nama baik/kreadibilitas

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PENGELOLA

1. Bertanggung jawab pada Dekan terhadap pelaksanaan kegiatan PBL
2. Menyusun/menyempurnakan kurikulum PBL
3. Merencanakan/menyusun juklak kegiatan PBL
4. Melakukan supervisi lapangan terhadap pembimbing lapangan serta kegiatan mahasiswa PBL di lapangan
5. Mengkoordinir penyusunan laporan hasil kegiatan PBL untuk disampaikan pada pemerintah setempat
6. Menetapkan penilaian akhir terhadap mahasiswa PBL
7. Mengambil keputusan terakhir tentang pelaksanaan PBL di lapangan apabila kegiatan tersebut mengalami hambatan-hambatan, berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan
8. Menunjuk/menetapkan pembimbing lapangan
9. Melakukan peninjauan lapangan untuk memperoleh informasi tentang kondisi lapangan serta untuk kepentingan distribusi mahasiswa sesuai dengan keadaan desa yang ada.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB SUPERVISI

Yang berhak melakukan supervisi adalah:
1. Semua unsur pimpinan fakultas (Dekan, PD I, PD II, PD III)
2. Tim pengelola PBL
3. Mereka yang dianggap mempunyai pengalaman khusus dalam kegiatan PBL
4. Mereka yang terlibat di dalam pelaksanaan suatu kegiatan tertentu melalui PBL
Tugas dan tanggung jawab supervisi adalah:
1. Memantau kegiatan pembimbing lapangan terhadap pelaksanaan PBL oleh mahasiswa
2. Memantau pelaksanaan kegiatan PBL oleh mahasiswa di lapangan
3. Memberi petunjuk/pengarahan tentang kegiatan PBL apabila diperlukan
4. Membuat laporan supervisi

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PEMBIMBING LAPANGAN

Tugas ini dilaksanakan oleh dosen fakultas kesehatan masyarakat UNPACTI, sebagai berikut:
1. Bertanggung jawab pada tim pengelola terhadap pelaksanaan kegiatan PBL oleh mahasiswa
2. Melaksanakan kegiatan kerja PBL yang telah ditetapkan
3. Bertanggung jawab terhadap semua aktifitas mahasiswa PBL selama di lapangan
4. Membimbing/mengarahkan mahasiswa PBL dalam pelaksanaan kegiatan kerja PBL yang telah ditetapkan
5. Mengintegrasikan kegiatan PBL di lapangan dengan kegiatan pemerintah
6. Memantau semua kegiatan pelaksana PBL oleh mahasiswa di lapangan
7. Memberi catatan khusus terhadap mahasiswa yang tidak mentaati kegiatan PBL di lapangan
8. Mengambil keputusan bila terjadi hal-hal yang diinginkan selama di lapangan setelah dimusyawarahkan antara di antara pembimbing lapangan yang diketahui oleh supervisi
9. Memberi petunjuk tentang pelaksanaan kegaiatan PBL di lapangan

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KOORDINATOR KABUPATEN/KECAMATAN

Tugas ini dilaksanakan oleh mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat UVRI sebagai peserta PBL yang dipilih oleh mahasiswa secara demokratis, yaitu:
1. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan PBL di lapangan di bawah petunjuk dan bimbingan pembimbing lapangan
2. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan PBL di tingkat mahasiswa di wilayah kabupaten/kecamatan kegiatan PBL
3. Segera melaporkan/meginformasikan semua peristiwa yang terjadi pada mahasiswa maupun hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan mahasiswa di dalam setiap kelompok
4. Bertanggung jawab terhadap kehadiran mahasiswa di lokasi PBL
5. Melakukan negosiasi dan kerjasama dengan aparat pemerintah setempat.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB
KOORDINATOR DESA/KELURAHAN

Tugas ini dilaksanakan oleh mahasiswa FKM UNPACTI sebagai peserta PBL yang dipilih oleh mahasiswa secara demokratis, yaitu:
1. Mengawasi/membantu pelaksanaan PBL di lokasi
2. Melaporkan setiap peristiwa yang terjadi pada kegiatan mahasiswa PBL di masing-masing lokasi kepada pembimbing lapangan
3. Mengabsensi kehadiran mahasiswa di lokasi
4. Melakukan negosiasi dan kerjasama dengan aparat pemerintah setempat dengan persetujuan pembimbing

PETUNJUK PENILAIAN MAHASISWA

Penilaian mahasiswa didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:
1. Kehadiran pada pelatihan dan orientasi
2. Kehadiran mahasiswa di lapangan (penilaian utama) mahasiswa diharuskan hadir selama 14 hari di lokasi PBL, dengan kategori sebagai berikut:
o Penilaian maksimal bila mahasiswa 100% hadir di lapangan
o Mahasiswa dinyatakan gugur (tidak lulus) bila jumlah kehadiran kurang dari 80% di lapangan
o Izin diberikan maksimal 2 hari dan minimal 1 hari
o Bila mahasiswa sakit dan tidak dapat melakukan kegiatan 80% di lapangan dianjurkan mengundurkan diri dan mengikuti PBL yang sama pada semester berikutnya
o Keaktifan dalam pelaksanaan program, yaitu mahasiswa dinilai berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan dan keaktifan mahasiswa
o Kersama antar mahasiswa, meliputi sebagai berikut:
o Kerjasama antar mahasiswa peserta PBL
o Membuat laporan sementara hasil PBL untuk dijadikan bahan seminar akhir.
o Kerjasama dengan masyarakat, aparat pemerintah dan pembimbing lapangan
o Inisiatif dan kreatifitas mahasiswa, yaitu dapat memberikan ide atau cara yang terbaik dalam melaksanakan suatu kegiatan
o Kondite, yaitu suatu aturan tata tertib UNPACTI dan etika yang berlaku di masyarakat
o Sifat kepemimpinan mahasiswa, yaitu mahasiswa mempunyai sifat-sifat kepemimpinan yang baik dalam mengorganisasi masyarakat
3. Jurnal/catatan harian, meliputi sebagai berikut:
o Kelengkapan isi dan materi
o Kebersihan/kerapihan
o Ketepatan/kedisiplinan mengisi
4. Seminar hasil PBL, yaitu yang dinilai adalah struktur dan materi laporan serta kemampuan argumentasi pada waktu seminar (disesuaikan dengan tingkatan PBL)
5. Laporan akhir PBL, yaitu yang dinilai adalah kelengkapan laporan, sistematika dan kemampuan bahasa, serta kemampuan analisis (disesuaikan dengan tingkatan PBL)
6. Nilai PBL, yaitu nilai mahasiswa yang mengikuti PBL dengan kategori A, B, dan E berdasarkan penilaian psikomotor dengan range nilai sebagai berikut:
91 – 100 = nilai A
81 – 90 = nilai B
< 80 = nilai E

LAPORAN AKHIR DESA/KELURAHAN

1. Laporan akhir desa/kelurahan dibuat secara bersama-sama oleh koordinator desa/kelurahan dengan seluruh anggota sedesanya
2. Laporan akhir desa/kelurahan dibuat sebanyak 4 (empat) rangkap dengan sampul warna merah:
3. Laporan akhir desa/kelurahan yang telah diserahkan harus telah diketahui oleh Kepala Desa/Kelurahan
4. Laporan Desa/Kelurahan disahkan oleh pembimbing lapangan pada seminar akhir setelah penarikan diri dari lokasi
5. Format dan sistematika laporan akhir kegiatan Desa/Kelurahan adalah sebagai berikut:
Halaman depan (lampiran 1)
Lembaran pengesahan(lampiran 2)
BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Maksud dan Tujuan PBL
BAB II Gambaran Umum Lokasi
1 Keadaan Geografi dan Demografi
2 Derajat Kesehatan Masyarakat
3 Faktor Sosial Budaya
BAB III Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Kegiatan
1.. Hasil Program Intervensi
2. Indikator Keberhasilan Program Intervensi
3. Pembahasan Pelaksanaan Kegiatan
BAB IV Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
2. Saran-saran
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran
6. Laporan akhir kegiatan desa/kelurahan dilampiri dengan sebagai berikut:
a. Nama Peserta PBL disertai dengan tanda tangan
b. Struktur pemerintahan desa/kelurahan
c. Peta desa/kelurahan
d. Program kerja
e. Foto-foto kegiatan disertai keterangan
f. Lain-lain yang dianggap perlu

PEDOMAN PROSES
PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN (PBL) III

Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Pancasakti Makassar
Makassar
2006

 

MODUL-MODUL PBL I
TEKNIK ASSESMENT MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
PENYULUHAN GIZI MASYARAKAT
PENYULUHAN KESEHATAN LINGKUNGAN
ANALISA POTENSI DESA/KELURAHAN SIAGA DAN SEHAT
MODUL-MODUL PBL II
PATOLOGI KOMUNITAS
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
REVITALISASI POSYANDU
ANALISA PARTISIPASI
MODUL-MODUL PBL III
PENGOLAHAN AIR
PEMBUANGAN AIR LIMBAH
PENGAWASAN PENYAKIT MENULAR
ADVOKASI MEWUJUDKAN DESA SEHAT DAN MANDIRI
MODUL-MODUL PBL IV

MODEL PENDAMPINGAN MASYARAKAT
ANALISIS MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
PENDEKATAN LINTAS SEKTORAL
MEMBANGUN LINGKAR INTI, LINGKAR SEKUTU DAN ALIANSI
MODUL-MODUL KKP

UMUM
TEKNIK ASSESMENT MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
REVITALISASI POSYANDU
MODEL PENDAMPINGAN MASYARAKAT
MEMBANGUN LINGKAR INTI, LINGKAR SEKUTU DAN ALIANSI

KOMPETENSI JURUSAN PROMOSI KESEHATAN
ANALISIS SISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PATOLOGI KOMUNITAS
DISKUSI KOMUNITAS
MEMBANGUN MODEL PARTISIPASI MASYARAKAT
KOMPETENSI JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
ANALISIS SISTEM PENYEHATAN LINGKUNGAN KECAMATAN
PENYULUHAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PENGOLAHAN AIR
PEMBUANGAN AIR LIMBAH
KOMPETENSI JURUSAN EPIDEMIOLOGI
ANALISIS SISTEM KEWASPADAAN WABAH KECAMATAN
PENGAWASAN PENYAKIT MENULAR
SURVEILANCE EPIDEMILOGI DESA/KELURAHAN
DETEKSI DINI PENYAKIT
PENYULUHAN NARKOBA DAN HIV/AIDS
KOMPOTENSI AKK
ANALISIS SISTEM PEMBANGUNAN KESEHATAN KECAMATAN
PENDEKATAN LINTAS SEKTORAL
PERENCANAAN KESEHATAN MASYARAKAT DESA
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN PUSKESMAS
KOMPETENSI GIZI
ANALISIS SISTEM KEWASPADAAN GIZI KECAMATAN
PENYULUHAN GIZI KELUARGA
PENYULUHAN GIZI ANAK SEKOLAH
PRAKTEK PENGOLAHAN GIZI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

%d blogger menyukai ini: